Setelah 25

Kamboja

 

“Never thought that I would grow so old of seeing the gold. Still I never want it to go…”*

 

25 tahun saya habis sebentar lagi. Penunjuk waktu digital di sudut kanan laptop sudah menunjukkan angka 12:18, seorang sahabat baik sudah mengirimkan ucapan selamatnya. Tapi sesungguhnya saya masih dua lima. Saya akan bersikukuh mengatakan demikian. Setidaknya dalam catatan ini.

Dalam beberapa jam, saya akan menjadi dua enam. Ibu dan seorang biyung baik hati yang mengasuh saya dulu sering bercerita, saya lahir pada sebuah pagi ketika matahari mulai meninggi. Ketika anak-anak berangkat sekolah, kenang mereka. Barangkali mereka mengingat segerombol anak-anak yang riang berjalan menuju sekolah, sembari mengurus ibu yang mulai kesakitan karena saya tak sabar untuk segera dilahirkan. “Pantes kamu seneng sekolah,” ibu pernah berkelakar. Meski pada akta kelahiran tertulis jam kelahiran adalah tujuh lebih tiga puluh lima, yang sebenarnya terlalu siang untuk berangkat ke sekolah. “Pantes aku telat terus pas sekolah,” pikir saya.

Saat itu hari Sabtu, lebih detil lagi, katanya hari dan weton Jawa saya sama dengan bapak. Mereka percaya, kelak saya dan bapak akan banyak berselilih paham dan hubungan kami bisa saja menjadi kurang hangat. Tak pelak, perhitungan mereka benar. Syukurlah ibu sudah membayar ubo rampe dan serangakaian hal adat untuk menebus saya yang satu pasaran dengan bapak. Biar kalau bertengkar tidak terlalu lama, katanya. Ini benar juga. Jika pada satu kesempatan pulang saya berbeda pendapat dan “marahan”. Kesempatan pulang selanjutnya kami ngobrol lagi dan “baikan”. Begitu terus setiap pulang.

Selanjutnya, ibu dan bapak seakan menjadi akar hidup saya. Semua nilai dan kepercayaan yang ada pada diri saya sekarang, semua tumbuh karena mereka. Hadir karena keberadaan mereka dan segala apa yang saya lihat pada mereka. Meski saya juga tak bisa bilang bahwa mereka adalah teladan yang sempurna. Tidak, mereka jauh dari tipikal itu. Satu hal yang saya kagumi dari mereka adalah cara mereka melepaskan dan membiarkan saya tumbuh dengan sendirinya. Keterbukaan yang dibangun di antara kami. Kebebasan dan kepercayaan mereka pada saya, bagi saya terasa lebih dari cukup. Oia, tentu saja, dukungan, doa, dan hal-hal penting lain yang diberikan orangtua pada anak-anaknya. Saya melewati tiap fase hidup saya tanpa banyak kesulitan berarti. Setidaknya itu yang saya rasakan.

Namun toh, menjalani usia 25 bagi saya terasa lebih rumit.

Awalnya ini sekedar gurauan teman-teman seangkatan yang kebanyakan lebih tua satu atau dua tahun dari saya. Ketika kami berkumpul dan mereka bercerita tentang banyak hal yang membuat mereka ragu. Saya diam saja dan menyanggah alasan-alasan mereka. Seperti misal ketika seorang teman baik bercerita tentang ibunya yang mulai memintanya menikah dan dia sedikit panik, saya kok nggak ya… jadi ya, ngapain dipikirin segitunya, kata saya. Lalu mereka mulai berkata: Tunggu saatnya!

Benar saja. Tidak spesifik prihal pernikahan, tentu saja. Tapi hampir pada setiap hal yang saya temui setiap hari.

Ini adalah masa-masa dimana kepala saya berfikir lebih keras tentang banyak hal dan mulai peduli dengan apa kata orang dan apa yang terjadi di sekitar. Bagi saya, ini melelahkan. Ketika membaca catatan di usia-usia sebelumnya, saya menyadari banyak hal berubah pada diri saya. Sayangnya, tak semuanya adalah hal-hal baik. Saya ketika 17 yang sangat bersemangat dan siap belajar apa saja. Saya di usia 19 yang menjadi sangat egois dan naif. Saya pada umur 22 yang begitu ambisius dan tidak peduli pada apapun. Hingga saya ketika 25, yang malah kebingungan.

Saya tidak lagi menginginkan hal-hal yang saya inginkan sebelumnya. Apakah hidup saya tidak lagi bergairah? Apakah saya sudah berada pada fase “kompromi”? Dimanakah renjana yang sebelumnya saya puja?

Nyatanya, tidak.

Beberapa keinginan kecil bahkan sudah terwujud. Keinginan lebih besar masih sedang diupayakan. Namun sepertinya, pengalaman mengajarkan, saya harus lebih tenang dan mulai mendengarkan sekitar. Meski sayangnya, bagi saya ini melelahkan. Kehidupan, atau tepatnya tuntutan menjadi orang dewasa, terlampau banyak untuk hanya dipikirkan dan diperhitungkan dalam satu malam.

Satu yang pasti, saya berubah. Terutama dengan bagaimana saya merespon apa yang ada di sekitar saya serta cara saya melihat diri saya sendiri.

Beberapa pertanyaan bermunculan. Tentang pilihan-pilihan. Dan bagi saya, ini sangat menyita pikiran. Bukan hanya dalam satu dua malam. Bahkan berbulan-bulan. Satu per satu meminta untuk diurai perlahan. Jangan bayangkan saya berada dalam depressed mode, karena saya tetap mampu bekerja dan beraktivitas seperti biasa. Saya bahkan sepertinya tetap ceria. Namun diantaranya, ketika bertemu satu titik membingungkan, otak saya seperti berhenti bekerja. Saya membutuhkan jeda untuk benar-benar sendiri dan mencerna semuanya. Sebelum saya mulai memastikan bahwa pilihan yang akan saya ambil selanjutnya adalah yang terbaik. Cukup menyusahkan. Tidak hanya bagi saya, tapi bagi orang-orang di sekitar saya. Apakah saya mengalami self denial? Bisa jadi.

Namun tunggu, karena sebenarnya apa yang saya lalui sangatlah normal. Hampir semua orang yang berada di usia saya mengalami hal yang sama. Inilah saat peralihan dari usia dewasa muda menuju usia dewasa. Ketika seseorang lebih sadar tentang tanggungjawab dan perannya bagi sekitar, baik orang-orang terdekat ataupun komunitas yang lebih besar, masyarakat, misalnya. Ketika kita memilih keputusan besar yang akan berpengaruh pada tahap hidup kita selanjutnya. “Setelah 25 si, harusnya udah mantep ya,” ujar seorang teman sambil makan gorengan.

Di lain sisi, saya merasa menjadi tahu lebih banyak hal dari sebelumnya. Tentu, pengalaman bertambah. Juga lingkar-lingkar pertemanan yang juga meluas. Apa yang bisa kita lakukan dengan semua itu? Banyak jawaban, tentu. Hanya saja, Mencoba memahami apa yang terjadi di luar sana seakan hanya menghabiskan waktu. Apakah saya terlalu apatis? Bisa jadi. Lho, bukannya kamu anaknya pedulian banget ya? Terus kenapa?

Oke, ini tidak penting. Namun, ya, ada saat ketika saya merasa tidak perlu tahu tentang semua hal. ISIS dan berita korupsi, misalnya. Saya ingin saya tidak tahu perihal seperti itu. Saya hanya ingin tahu dengan siapa Taylor Swift akhirnya menikah. Saya ingin lebih banyak berita-berita menyenangkan yang membuat saya tertawa setelah membacanya.

Teman-teman juga ternyata mengalami hal yang sama. Ada saat kita ingin menjadi bagian dari masyarakat, namun ketika kita tahu tentang apa yang terjadi di sekitar, ternyata itu menjadi terlalu menakutkan. Inilah saat ketika kita mencari ruang lain untuk mengambil jeda sementara dari hal-hal yang membuat kita merasa tidak berguna. Mengambil jarak dari hiruk-pikuk obrolan pilkada dan tentang anak-anak putus sekolah. Kembali ke hobi-hobi lama. Beberapa teman asyik kembali menjahit dan merancang baju, mengatur kembali jadwal ke gym dan lari, mencoba resep-resep baru, atau saya yang mencoba lagi yoga dan bertanam (plus selfie dengan bunga-bunga). Banal memang, tapi menyenangkan. Hal-hal yang tidak akan membuat bosan.

Barangkali, begitulah bagaimana krisis usia 20 pertengahan terjadi. Mid-20 crisis atau quarter life crisis. Kebetulan, dua pagi lalu saya membaca ini. Di sanalah saya menemukan penjelasan sederhana tentang satu masa ketika kita dihadapakan pada banyaknya pilihan yang bisa saja berpengaruh pada kondisi mental. Di sinilah kebingungan-kebingunan itu lahir. The amount of huge decisions you have to make creates arguably the most difficult part of the life span in terms of stress of mental health.

Saya pun harus mengakui: ya, saya mengalami the mid-20 crisis.

Mulai dari pekerjaan. Mau kerja di bidang sosial seperti keinginan sejak lama atau pilihan lain yang lebih menyenangkan? Memilih teman. Berperan dalam keluarga. Memilah-milah kebutuhan dan mengatur urusan keuangan. Kembali ke kampus, mau belajar apa? Peran kita bagi sesama. Prihal asmara, impulsif menghubungi kekasih di masa lalu hanya untuk memastikan semuanya benar-benar selesai. Menulis lagi atau tidak. Arctic Monkeys kapan membuat album baru lagi? Haji atau keliling Eropa? Ketika orang-orang begitu idealis dan pintar berdebat tentang hadis dan atau pemikiran, kenapa saya masih saja bingung milih makan bakso atau mie ayam? Apa-apa saja yang mesti ditunjukkan melalui facebook, instagram dan path? Coba-coba online dating karena temen dapet kenalan mas-mas Harvard dan malah bingung sendiri ini apaan si. Yakali! Bagaimana membuat guacamole agar lebih yummy? Asyik banget Awkarin nangis aja uangnya banyak, kamu pengen? Yakin kamu pengen kayak gitu? Gaji sebulan cukup kok. Bagaimana membuat alis tebal dan presisi? Adam Driver jelek pas jadi Kylo Ren, kerenan pas jadi Adam di GIRLS. Pengen beli sepatu lagi. Udah transfer uang jajan buat Lulu belum? Ini pohon cabai kemarin mati, rajin disiram kok hidup lagi? Mungkinkah juga dengan…? Bulan ini harus hemat demi nanti insyallah nonton Coldplay. Ihay!

Menumpuk. Saya tidak tahu dengan apa yang muncul di kepala orang lain. Namun ketika pertanyaan-pertanyaan itu muncul bersamaan. Itu benar-benar melelahkan. Selanjutnya, mungkin saya akan menuliskannya satu per satu.

Meski kadang, ketika bercerita ke teman, mereka seakan mengatakan bahwa hidup saya terlihat baik-baik saja. Tapi tunggu, bukankah selalu seperti itu? Orang lain hanya melihat apa yang nampak di permukaan.

 

All I believe in is a dream. I haunt the Earth though I am fully seen. In all my years I’ve never felt more sure than now. Well, I got to get off this rock somehow…**

Kesadaran bahwa sepertinya saya sedang mengalami krisis sebenarnya sudah terjadi sejak beberapa bulan lalu. Meski bagi saya, kesadaran bahwa saya sedang tidak baik-baik saja sesungguhnya sangat membantu. Setidaknya itu membuat saya tetap terkontrol. Saya memilih lebih teliti. Saya lebih awas dengan apa yang saya lakukan. Sisi baiknya, tidak ada pilihan yang saya sesalkan kemudian (kalaupun ada, alasannya masuk akal). Lainnya lagi, saya lebih siap menghadapi setiap konsekuensi yang ada. Saya tahu kemana saya harus pergi dan apa yang harus saya lakukan ketika saya tidak bisa apa-apa.

Selebihnya. Barangkali saya beruntung, karena memiliki support system yang sangat mendukung. Tidak menuntut terlalu tinggi. Sehingga memungkinkan saya untuk tetap positif. Meski seorang kawan bilang, saya sering terlalu positif dan terlampau baik. Naif memang. Terus kenapa? Selama saya tidak dirugikan.

Membicarakan ini dengan orang-orang terdekat, dan juga menuliskannya di sini, bagi saya juga sangat membantu. Saya punya kesempatan untuk menuliskan pengalaman saya satu tahun terakhir bertemu dengan banyak sekali pilihan dan orang-orang menyenangkan yang saya temui. Dalam beberapa hal, mereka sangat membantu saya melihat satu hal dengan perspektif lebih luas. Kita juga sepertinya melewati masa ini bersama-sama.

Senangnya. Jika dua tahun lalu saya hanya tahu apa yang saya tidak mau. Sekarang saya bisa cukup yakin untuk mengatakan apa yang saya mau. Bukankah ini baik? Saya tahu apa yang saya mau dan apa yang saya tidak mau. Baiknya lagi, saya tahu bagaimana untuk mendapatkannya. Karena sebenarnya semua jalannya sudah terbuka sejak lama.

See, everything happened for a reason.

Oke, sampai sini saya agak aneh si nulisnya. Tapi emang gitu. Yaudah… 😀

Selebihnya, saya perlu menceritakan apa yang terjadi hari ini. Hari terakhir saya pada usia dua puluh lima.

Saya bangun pagi sekitar pukul 6. Setelah serangkaian bangun lalu tidur lagi. Lihat-lihat path. Menari-nari nggak jelas berasa lagi senam SKJ. Lalu mulai bekerja sekitar pukul 11 siang. Bekerja, menulis beberapa kalimat untuk satu dua TVC. Menerjemahkan beberapa materi promosi yang akan dibawa ke luar negeri. Dan sekitarnya. Selepas Magrib, saya janjian mau ke supermarket dan nonton sama Bianca, salah satu kawan baik saya di kantor.

Kami menonton Moana. Film animasi Disney yang menyenangkan. Meski ceritanya agak terlalu dipaksakan. Beruntung gambarnya sangat cantik. Kami berkeliling di dalam mall sebentar. Menemani Bia mencari gambaran café untuk project desainnya. Lalu kami ke supermarket. Saya membeli beberapa keperluan. Tidak banyak, sesuai list: sabun mandi, cairan pencuci piring, dan body butter. Lalu kami kembali melihat-lihat beberapa resto dari kejauhan untuk dipotret. Karena sudah jam 10 malam, kami memilih makan di luar mall. McD menjadi pilihan. Makan ayam goreng. Bahkan McD pun kini membuat ayam goreng. Sungguh banyak hal berubah. Tak perlu khawatir pulang kemalaman, kami pulang naik Uber. Kami hampir selalu naik Uber, dan atau Gojek.

Inilah gambaran usia 25 saya. Bekerja hingga agak malam. Masih senang nonton film animasi. Tak khawatir makan McD malam-malam, akhir pekan nanti yoga dan renang. Sangat memanfaatkan aplikasi-aplikasi online. Sedikit khawatir tentang masa depan, tapi buat apa? Tahun kemarin juga khawatir, nyatanya hari ini saya baik-baik saja. Tahun depan, mungkin akan hadir kekhawatiran-kekhawatiran lainnya. Yasudahlah.

Kita urai satu per satu di lain waktu. Banyak yang ingin saya ceritakan.

Pagi nanti. Ibu biasanya akan menelepon. Mendoakan yang baik-baik dan mengingatkan untuk rajin sholat dan makan nasi setiap hari. Bapak akan nimbrung sebentar, mendoakan panjang umur dan mengingatkan untuk rajin olahraga dan makan buah. Lalu adik-adik akan menelepon juga, mendoakan segera menikah. Biar uang jajan nambah. Ini paling lucu si.

Begitu.

Apakah ketakutan saya sudah berakhir? Semoga. Saya berdoa ini saja.

 

Wisdom’s a gift, but you’d trade it for youth. Age is an honor, it’s still not the truth. We saw the stars when they hid from the world…

We know the true death, the true way of all flesh. Everyone’s dying, but girl you’re not old yet.***

 

Kutipan di atas berasal dari tiga lagu ini:

* HAIM – Don’t Save Me

** Alabama Shakes – Rise to the Sun

*** Vampire Weekend – Step

 

 

 

LIFE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *