Tempat

WhatsApp Image 2020-09-28 at 00.56.33

 

4/30

Places you want to visit

 

___

Tadi sore pas banget baru ngobrolin tentang tempat yang ingin aku kunjungi.

Kebetulan ngobrolinnya bareng Dzul, pas kami car date makan Bebek Slamet. WKWK. Sungguh, kami makin ahli makan aneka menu di mobil!

Kebetulan aku puter lagu-lagu Yogee New Wave (akan kutulis YNW), band Jepang yang aku temukan di Spotify. Aku sendiri gak tau YNW ini sepopuler apa di Jepang, tapi aku suka lagu-lagunya yang menyenangkan. Aku bilang ke Dzul, “Aku kan suka banget YNW ini nih, terus kebayang kalau misal ke Jepang bisa liat mereka live seru deh kayaknya. Siapa tau mereka main kayak di ituh apaaa festivalnya namanya?”. “Fuji Rock?” jawab Dzul. “Iya, Fuji Rock. Kayaknya seru.”

Jadi, selama ini, aku termasuk orang kurang cocok jalan-jalan ke luar negeri (atau ke manapun), tanpa tujuan pasti. Kalaupun awalnya tidak ada tujuan, biasanya aku akan cari-cari tujuan. Maksudnya tujuan di sini misalnya: urusan kerja, nyobain tempat makan A, ketemu si B, mengikuti acara C, datang ke acara D, mengunjungi E, dan seterusnya. Kadang bisa si spontan, tapi biasanya aku sudah punya bayangan akan ngapain, sesederhana nyobain berenang atau datang ke museumnya. Setelah tujuan itu tercapai, baru deh biasanya bisa random, asal masih ada waktu, tenaga, dan duit. Aku tidak sespontan itu membeli tiket lalu menuju ke satu tempat.

Pun ke Nepal, aku ingin bertemu Yak dan masuk Uighur.Pun random memilih menuju satu kota karena sedang berada di kota sekitar untuk bekerja, misalnya, aku akan mencoba mencari teman yang tinggal di kota tujuan untuk bertemu atau mencari lokasi yang menarik untuk dikunjungi. Aku tidak tahu jika itu termasuk spontan atau bukan. Mungkin setengah-setengah ya.

Pengalaman zonk, pernah sedang bekerja di Kediri, aku ingin mengunjungi kebun bunga matahari, ternyata tempatnya sudah jadi persawahan. Hehe. Pengalaman seru, waktu setengah iseng menuju Aceh saat cuti mengajar, Saku menyempatkan bertemu dengan Cudo dan teman-temannya di Banda Aceh (dan ikut tincal di rumah Cudo tentu), kemudian menghabiskan pergantian tahun di Pulau Sabang bersama.

Lalu, jika bicara keinginan, tentu banyak sekali tempat yang ingin dikunjungi. Dari sesederhana ingin pulang ke rumah, ke Danau Toba lagi barang seminggu tanpa diganggu urusan pekerjaan, atau mengikuti sesi meditasi satu minggu di Bogor. Selain itu, ada juga keinginan-keinginan terencana plus mimpi-mimpi seandainya aku dimampukan, aku pengen banget haji dan menelusuri beberapa titik penting beradaban Islam di Timur Tengah. GOTCHA! Siapa yang gak duga? Lol. Aku sendiri tertarik karena banyak baca tentang hukum fiqih yang banyak muncul karena kondisi di Arab yang berbeda di masa Rasulullah dan ingin tahu bagaimana hal itu berkembang hingga sekarang, ketika negara-negara Arab mengadopsi modernisasi. Dalam hal ini, berarti termasuk Turki, Mesir, Israel, Afghanistan,  Irak, dan Iran. Empat negara terakhir sepertinya agak sulit ditembus, jadi haji bisa jadi pilihan paling memungkinkan. Dzul sendiri punya keinginan sama, namun dengan cara berbeda. Sedikit romantis dan berbau petualangan ala Le Grand Voyage, nyetir bertiga sahabat Kristennya. Dzul haji, dua kawannya ke Israel. Ok baiklah.

Selebihnya, aku juga pengen mengunjungi beberapa festival musik, dari Fuji Rock, Glastonbury, Primavera, Coachella, SXSW, Lollapalooza, Rock in Rio, Quebec, Donauinselfest! Dan tentu, pasti kalau udah jauh ke sana-sana, bisa sekalian jalan-jalan keliling cari makanan pinggir jalan atau lihat museumnya. Ah, ngebayanginnya aja udah seneng!

Waktu pertama-tama lari dan merasa mampu lari jarak jauh, kebayang juga pengen keliling kota-kota penyelanggara Marathon dan nyobain lari di sana. Tapi ini motivasinya naik turun, tentu karena latihannya juga harus ekstra.

Pas persiapan S2 dulu, aku mengincar sekolahan di London, New York, dan Melbourne, tentu karena programnya bagus. Gak kebayang mau jalan-jalan ke mana si, kecuali mungkin ke Orchad Street dan 5thAvenue aja. Melbourne malah gak kebayang mau ke mana, katanya si banyak taman nyaman, itu aja udah membahagiakan. Tapi karena aku gagal terus mengejar beasiswa, sekarang aku lebih nyaman untuk nabung dan coba ingin sekolah dengan biaya mandiri aja, jadi pengen sekolah yang terjangkau dan sesuai interest-ku, di UI Salemba atau mungkin ke Singapura, program yang kuingikan ada di sana juga. Terkait sekolah juga ada pertimbangan lain, seperti misal karena dulu dengan penghasilan dan tanggungan yang kupunya, aku merasa belum mampu membiayai sekolah sendiri. Syukurnya akhir tahun lalu adikku sudah lulus dan dia bisa segera mandiri, jadi aku bisa mengalihkan “jatah bulanan” dia sedikit demi sedikit untuk diriku sendiri. Aku punya dua opsi, antara memulai S2 atau segera memulai usaha yang kurencanakan sejak lama. Seneng banget.

Saat mencari beasiswa dulu, rasanya akan berat bagiku untuk mengambil beasiswa dalam negeri, karena aku punya tanggung jawab lain dan tidak diperbolehkan bekerja. Sementara kalau mengejar beasiswa ke luar negeri, kabar-kabarnya uang sakunya jika dihemat sekali akan cukup untuk sekedar mengirim uang saku untuk adikku. Hihi. Aku gak tau berpikir demikian tepat atau tidak, tapi rasanya itu dulu strategi terbaik yang bisa kulakukan. Beberapa yang percaya teori “jalan Tuhan” mungkin bisa menyambungkan, itulah karena aku banyak berat di kepala, makanya gak diloloskan beasiswa, bisa jadi. Tapi tentu aku lebih percaya bahwa memang aku bukan kriteria yang lembaga beasiswa itu targetkan. Selain itu, Bahasa Inggrisku juga masih stuck di level IELTS 6.5 dan kampus yang kutuju bagus semua. Mereka tentu berharap aku lebih baik dari aku saat itu. Sementara waktu terus berjalan, hal-hal yang ingin kulakukan tentu harus tetap terjadi: dengan dan atau tanpa beasiswa. Sekolah lagi ataupun tanpa sekolah lagi. Aku nyaman dengan opsi itu lalu aku mencoba mengupayakan yang terbaik saja. Serunya, aku bisa memulai kelas-kelas dasar yang kuinginkan di Coursera. Kurasa pertimbangan menuju satu tempat untuk bersekolah banyak sekali, dari hal teknis hingga prinsip, juga kesempatan. Aku takut jika aku stuck berhenti di sana, aku justru kehilangan waktu untuk berkembang. Jadi yasudah, kubiarkan pilihan-pilihan lain datang padaku: dan aku memilih yang terbaik dari yang kupunya.

Wow. Jadi ternyata places gak cuma nama tempat ya, tapi juga kesempatan dan harapan.

Jadi kebayang kan, mengunjungi negara-negara lain dengan keinginan datang ke festival musik lebih mungkin bagiku. Karenanya, keinginan keliling dunia mendatangi festival musik belum berubah dari list jawaban “Kamu ingin pergi ke mana?”. Jika memungkinkan, aku bisa ke sana saat tua nanti. Kurasa Julian Cassablancas umur 60 tahun masih sama kerennya dengan ketika dia 22!

Selebihnya, tentu aku ingin keliling Indonesia dan Asia Tenggara! Kurasa pengalaman ini penting untukku, untuk tahu rasanya tinggal di Thailand, Vietnam, Myanmar… dan oia, termasuk China dan India. Aku belum tahu masa depan seperti apa yang menantiku. Tapi sepertinya pengalaman mengenal negara-negara Asia akan berharga buatku. Mungkin pekerjaan atau sekedar menjawab penasaranku: bagaimana rasa mie rebus dan jajan pasar di sana?

LIFE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *