Ingatan

WhatsApp Image 2020-09-26 at 00.21.14

3/30

 

A Memory
__

Belakangan, karena selalu di rumah, lebih tepatnya di kostan, aku banyak mengenang memori-memori di rumahku. Rumah lahirku.

Sepertinya juga karena aku kangen banget keluargaku. Selain telpon dan bertukar pesan, hal lain yang bisa kulakukan adalah ngelamun, mengenang, dan sesekali mendoakan. Terperangkap di kamar sewaan 3x3cm tentu gampang bikin bosan dan membuatku rindu jalan kaki di pekarangan. Kasih makan ayam dan ikan. Atau sekedar bakar sampah di belakang rumah.

Kukira, karena hal-hal itu, aku menyukai bertanam, masak, mengkompos, dan belakangan memlihara kucing. Dengan segala sebal-senangnya, tentu. Sebab aku mengenalnya sejak lama tanpa aku menyadarinya.

Keluargaku pindah rumah sekali. Dari rumah eyangku, aku manggilnya biyung dan bapak kaki, dan lalu rumah orang tuaku sendiri. Kalau aku sendiri beberapa kali pindah tempat tinggal: rumah kostan di Solo #1, rumah kostan di Solo #2, rumah kostan di Jakarta #1, rumah kostan di Jakarta #2, camp Indonesia Mengajar (2 bulan, lumayan banget), rumah keluarga di Talang Tebatrawas, rumah kostan Jakarta #3, lalu kembali ke rumah kostan Jakarta #2, dan sempat juga tinggal di apartemen sekalian basecamp kerja tapi bolak-balik ke kostan juga.

 

Dari beberapa tempat tinggal, pengalaman tinggal di rumah eyangku menjadi yang paling berkesan. Kukira karena aku lahir dan melewatkan lima tahun pertama hidupku di rumah itu. Meski samar, aku masih mengingat beberapa fragmen menyenangkan di sana. Ada juga yang tidak menyenangkan.

Aku mengingat bak mandi batu berukuran lebih tinggi dari badanku. Benar-benar batu kali yang dipahat menjadi bak mandi cekung. Bagian tengahnya berlumut. Airnya dingin, berasal dari sumber mata air di sana, diambil dengan selang panjang. Aku kehilangan sebelah anting, cincin, dan kalungku dalam proses mandi di situ. Mamaku marah-marah. Biyung Kailem, dulu bantu mamaku mengasuhku, suka ikut mencari. Kurasa hilang terbawa air, masuk ke kolam ikan. Oia, bak itu tidak berada di kamar mandi. Bak itu ada di sumur lebar berdinding setinggi kepala orang dewasa saja. Mamaku mandi pakai kain sarung di sana. Kita juga bisa buang air besar langsung di atas kolam ikan. Aku lupa ada ikan apa saja, tapi kami sering banget makan ikan lele, mujair, dan gurame. Kamu boleh jijik sampai di sini. Tapi bapak juga kasih mereka makanan ikan dan daun-daunan kok. Tenang-tenang, ada kamar mandi dan WC di dalam rumah kok, tapi seingatku jarang dipakai. Aku pun lebih senang mandi di sumur.

Aku, bapak dan mama tinggal di rumah utama, beratap semi joglo dengan jendela kaca tinggi di depan rumah. Terasnya melebar dengan undakan di sisi kanan kiri pintu. Ruang tamunya satu joglo, dengan mushala mungil di sisi kanan rumah. Aku ingat ibuku pernah kesal sekali padaku karena aku menangis pas sholat lalu dia mengangkutku pulang dengan sebal. Aku tentu lupa kenapa aku nangis. Belakangan aku tahu rumah orang jawa cendrung memiliki ruang depan lebar untuk menyimpan hasil panen dan kenduri. Kamar orangtuaku di bagian belakang, menghadap kebun nanas. Seingatku, aku selalu senang duduk di jendela menghadap kebun nanas. Daunnya indah panjang dan jika berbuah, warna nanas kuning mencolok (apakah karena ini kau suka warna kuning?). Kami menghias daun nanas dengan cangkang telur. Aku bisa lompat turun dan naik lewat jendela itu. Kalau aku mau mengambil uang mamaku untuk beli anak mas dan sarimi (untuk digado), kadang aku masuk lewat jendela itu. Hehe. Aku sering ketahuan.

Di depan kamar orang tuaku ada dapur kecil ibuku dan meja makan panjang. Warnanya biru. Aku gak ngerti kenapa. Tapi sepertinya bapakku bikin sendiri. Seingatku, kami punya beberapa meja serupa. Kakiny dari kayu, sementara daun mejanya dilapisi teriplek biru. Lalu tempat bapakku bekerja dengan aneka alat elektroniknya. Bapak bisa berdiam lama-lama di sana  otak-atik alat elekstronik atau memperbaiki apa-apa yang rusak, termasuk mainan-mainanku dan atau mainan orang yang lalu diberikannya padaku. Menurutku dia keren sekali. Tak jauh dari ruang itu, ada ruang menonton TV, di sini aku suka ikut menonton Dunia Dalam Berita jam 7 malam. Aku rasa kami belum banyak dapat channel TV karena memoriku tentang Doraemon lebih banyak di rumah baruku.

Diantara rumah yang ditempat orangtuaku, ada sekat beberapa meter sebelum menuju rumah eyangku. Di situlah ada kamar mandi, jerigen-jerigen minyak, dan barang-barang lain yang tidak kutahu. Sepertinya hasil panen dan jualan biyungku. Bapak kaki sudah meninggal sebelum aku lahir. Jadi tentu memoriku lebih banyak tentang biyungku. Dia punya warung sembako di depan rumah. Penutupnya dari kayu warna hijau, kalau bukan merah. Atau mungkin kombinasi keduanya. Aku suka bermain di depan warungnya. Mencari cembukur di gundukan debu halus di sela-sela tembok atau bermain di pohon jambu depan warung juga, menemaninya berjualan. Atau main di pasir. Aku lupa. Tapi aku akan ikut main pasar-pasaran dan berjualan dengan orang-orang di kepalaku.

Jika musim panen, halaman rumah penuh padi, jagung, dan kedelai yang dijemur. Rama Edin, suami Biyung Kailem, banyak membantu eyangku. Aku kadang membantu. Atau lebih tepatnya bermain-main saja. Biyung selalu senang dan puas ketika hasil panen diangkut pick up atau truk juragan-juragan dari pasar. Kadang ada syukuran di rumah. Aku selalu senang dengan syukuran, banyak makanan. Tidak lama kemudian sepertinya warung tutup. Antara merugi atau biyung menua. Karena kalau dihitung-hitung, saat itu usianya sudah enam puluhan juga.

Saat itu, salah satu komoditi utama eyangku adalah minyak tanah, kompor minyak sedang ngetren. Orang beli literan dengan jerigen putih kusam. Saat itu pula, sepertinya, ibuku memulai usaha bajunya. Oia, aku tidak pernah mengambil uang biyung, walaupun uangnya banyak di meja warung. Aku takut. Aku lebih senang mengambil uang mamaku di meja rias, 25 rupiah dua buah dan membelanjakannya di warung sebelah. Ah iya, sepertinya memang warung sebelah lebih ramai karena banyak jajanan anak-anak. Warung biyungku terlalu serius.

Aku mengingat biyung selalu lengkap dengan kain jarik, kebaya, dan bercepol atau kerudung/kutu penutup kepalanya. Aku merasa mirip biyung, cuma biyung kulitnya putih bersih. Dia pesek juga. Pipinya juga menonjol, hihi, atau mungkin karena dia sudah tua. Aku hampir tidak pernah melihat biyung tanpa kain jariknya. Bahkan ketika tidur. Rambutnya panjang, setengah beruban. Aku suka main di kamar biyung juga, karena dia punya radio kecil di kasurnya. Saat itu aku Evie Tamala cukup populer. Satu hal yang paling aneh dari tata rumah biyung adalah dapur yang terlalu besar. Terlalu, terlalu, terlalu besar. Lebih dari setengah rumah. Mungkin orang zaman dulu membutuhkan itu.

Kegiatan favoritku adalah duduk-duduk di bawah pohon asem besar di belakang rumah. Pohonnya terlalu besar, aku tidak bisa memanjatnya. Di sana, aku suka ngobrol dengan semut-semut. Kamu boleh tertawa. Tapi sekarang aku mengingatku jelas. Aku sukaaa sekali ngobrol dengan semut di sana. Aku kadang menghitung mereka. Mengikuti dari mana mereka datang dan pergi. Seringkali terlalu jauh dan masuk ke tumpukan batu-batu.

Biyung juga sering mengajakku keliling kebun dan bertanam. Dari sisi bagian paling depan, di sana ada bunga-bungaan dan pohon belimbing. Diantaranya kami menanam kencur dan sereh. Lalu kebun nanas di bagian kanan rumah. Lalu ke belakang kebanyakan pohon-pohon besar dan aneka bumbu dan obat rumahan, seperti kunyit, jahe, lengkuas, dan temu kunci. Di dahan pohon-pohon besar menjalar pohon merica. Kadang kami juga memanen ketela dan ubi jalar. Rerimbunan sirih dan pohon pisang berada di sebelah kiri rumah di dekat sumur timba. Selebihnya jauh ke arah kiri, banyak pohon besar diselingi pohon kopi dan rumpun pohon salak. Aku tidak pernah tertarik menuju arah pohon salak, aku merasa takut ke sana: gelap, banyak duri, banyak ular.

Singkat cerita, orang tuaku memutuskan untuk memiliki rumah tinggal sendiri ke daerah yang lebih “kota”. Kami tinggal di lingkungan keluarga bapakku. Waktu itu, di rumah baruku sudah ada listrik dan jalanannya sudah diaspal. Halamannya tentu tidak luas. Kami tidak punya kebun nanas. Hanya ada pohon sukun besar di depan rumah. Namun pelan-pelan bapak menanami pohon mangga, rambutan, dan durian. Dan tentu, kendang ayam dan kolam ikan kecil di belakang rumah. Tapi tidak ada lagi pohon asem besar. Tapi memang aku sudah tidak perlu ngobrol dengan semut lagi, karena aku sudah punya adik dan aku juga sibuk nonton TV dan sekolah.

Biyungku meninggal ketika aku kelas 3 SMA. Sebelum ia meninggal, rumah lahirku sempat direnovasi. Rumah joglonya sudah berganti rumah tembok dengan ruang tamu memanjang dan dua kamar di sisi kanannya. Rumah satunya dihancurkan. Lebih ringkas untuk tinggal seorang nenek yang sendirian. Setelah biyung meninggal, mama dan keluarga menjual rumah dan seluruh lahannya. Aku sudah tidak pernah berkunjung ke sana lagi.

Jika pulang ke rumah, aku menyempatkan nyekar ke makan biyung dan bapak kaki. Kurasa aku merindukan mereka. Juga rumah mereka dan halaman luasnya.

Keinginan tinggal di rumah dengan halaman luas sering muncul di benakku. Tapi jika harus memilih, anehnya, untuk saat ini aku lebih memilih untuk tinggal di apartemen kecil di dekat Jakarta. Aku pun tak lagi ingin tinggal di kampung halamanku. Aku merasa mereka adalah memori indah yang hanya perlu kudatangi sesekali.

Ah tapi, jalan hidup orang, siapa yang tahu.

LIFE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *