Bahagia

Lemon
Lemon

2/30

Things that makes you happy

___

The truth is, it is hard to write down things that make me happy while in reality I am unhappy. I supposed to write this second note four days ago, yet I did not have enough things to list down. As I am feeling better now, I can say that: some of the things that keeping me away for being sad will make me happy.

List pertamaku sepertinya kehadiran dan kesempatan. Karena kehilangan bener-bener buat aku sedih. Selasa pagi kemarin salah satu kucingku meninggal dan aku jelas kehilangan dan sedih banget. Kucingku ini namanya Lemon, Bu Inah kadang manggil dia Lemon Leci, karena memang sangat kecil. Lemon salah satu dari enam kucing kecil yang lahir tiga bulan lalu dari kucing betina dewasaku, Violin. Dibanding lima anakan kucing lainnya, Lemon paling kecil. Ketika lahir badannya tak lebih besar tiga jari tanganku digabungkan, aku sempat mengira dia adalah ari-ari bayi kucing. Awalnya kukira dia tak akan kuat hidup terlalu lama, sebab ketika saudaranya aktif menyusu, dia selalu ketinggalan. Pun demikian ketika yang lain mulai aktif bergerak, dia diam saja. Aku, Bu Inah dan Kak Desy coba merawat dan bersihkan Lemon semampu kami, termasuk memberinya susu tambahan.

Tapi dasar Lemon kucing kuat, usia tiga mingguan dia menunjukkan dia cukup bisa mandiri. Dia beraktivitas seperti anakan kucing pada umumnya, hanya saja memang badannya tetap jadi yang terkecil. Termasuk ketika melewatai umur tiga bulan. Meski Lemon tidak lari sekencang saudara-saudaranya, dia makin aktif, makan banyak, dan sangat cerewet. Lemon suka nemenin aku kerja di kamar juga. Aku suka foto-foto dia, karena badannya yang mungil, cutie. I love him, already. Aku yang berencana membuka adopsi untuk anak-anak kucing, mengecualikan Lemon. Aku akan rawat Lemon dan berniat bawa ke dokter kalau sudah tiga bulan, untuk vaksin dan obat cacing. Aku merencanakan akhir bulan September ini, nunggu gajian dan nunggu Dzul ada jadwal kosong untuk anterin aku dan kucing-kucing.

Tapi sayang, Senin malam aku diinfo Bu Inah, kalau Lemon seharian gak mau makan. Ugh. Aku sendiri tidak memperhatikan seberapa banyak mereka makan, karena hari itu aku sedang sangat sibuk. Memang agak sulit mengira siapa makan lebih banyak dari siapa kalau kamu punya 9 kucing, kamu harus nongkroning mereka makan secara langsung paling nggak sepuluh menit. Uh, biasanya aku sempat, hari itu aku benar-benar tidak sempat.

Malamnya setelah selesai bekerja, aku suapin Lemon. Dia memang nggak seceria biasanya, diam saja walau temen-teman lain asyik lari kesana-kemari. Jujur aku udah ada feeling, jangan-jangan Lemon sudah gak kuat. Mengingat badannya yang kecil saja, bukan karena intuisiku sedang tajam. Aku meniatkan bawa dia ke dokter hewan besok pagi, karena memang merasa capek sekali. Jadi aku bersihkan Lemon dengan air dan tisu, terutama bagian pantatnya yang ada sisa kotoran, lalu aku ajak tidur di kamar. Kita main-main sebentar. Tapi Lemon memilih tidur di luar kamarku. Akhirnya aku siapin kasur kucing dan kudekatkan makanan basah dan minuman. Dalam hati kuberdoa, semoga kuat, jangan pergi dulu.

Sayang aku gak tau apa yang terjadi dengan Lemon. Kami juga gak punya CCTV, jadi gak tau apa yang terjadi sisa malam itu. Paginya, Kak Desy teriak kencang banget bangunin aku. Udah hampir jam tujuh si, sebenernya. Katanya Lemon diam di tangga mata dan mulutnya terbuka. Ah. Lemon mau ke mana siii, kok di tangga?

Aku bangun, aku lari ke tangga. Lemon mau ke mana? Kenapa di tengah tangga? Dan oh. Badannya sudah sekaku kayu. Iya, Lemon mati.

Kami terus panggil Bu Inah, teriak-teriak tentu, pas banget dia baru datang ke rumah kost juga. Kami ingin segera mengubur Lemon. Soalnya gak kuat litanya. Awalnya Bu Inah mau kubur Lemon di halaman rumah tetangga. Tapi khawatir banyak anjing liar kalau malam. Lalu kami sepakat menguburkan Lemon di halaman depan, di bawah pohon Belimbing Wuluh. Kami bungkus Lemon dengan kain katun, baju tyedie bekas Kak Desy. Bu Inah menggali tanah dengan sekop berkebun kami. Kayaknya aku cuma diam mematung dan memastikan Bu Inah gali cukup dalam biar tidak dibuka kucing lain. Lalu kami kubur Lemon. Lubangnya kecil, tapi cukup dalam. Seperti kalau kita mau mindahin bibit tanaman. Aku cabut tunas Lily Perdamaian untuk jadi penanda pusara Lemon. Mungkin bunganya akan tumbuh subur. Aku juga berniat menyemai bibit Lemon, nanti akan kutanam di sana juga.

Meski tulisan ini agak panjang, kejadian sebenarnya cepat sekali. Aku bangun hingga selesai mengubur paling hanya 20 menit. Setelah itu aku cuci tangan, balik ke kamar, ingin tidur lagi tapi aku tidak bisa. Aku ingin menangis tapi harus siap-siap kerja juga. Jadi aku memilih diam saja sambil liat Instagram, lalu kembali ke depan foto kuburan Lemon dan aku posting di instagram. Mengabarkan kalau aku sedang kehilangan. Walau sepertinya tidak banyak yang tahu itu foto apa, mungkin hanya dikira bibit bunga.

Hari itu aku tetap fokus bekerja. Minggu ini memang sudah diprediksi padat karena banyak rencana dan proses kerja yang harus diselesaikan. Tapi malamnya aku sedih, lebih ke semacam ngawang, antara kurang tidur atau benar-benar merasa kehilangan. Dzul sengaja datang, karena kerjaannya ditunda, ajak aku makan bakmie dan keliling Jakarta, lumayan terhibur.

Kukira kesempatanku bersama Lemon sudah habis, dan aku bersedih. Tidak bahagia.

Selain karena kehilangan Lemon, hariku awal minggu ini memang sudah sendu. Aku cukup panik dan khawatir berlebih dengan makin banyaknya orang yang kukenal positif Covid 19. Satu dua keluarga teman juga berpulang karena virus menjengkelkan ini. Aku takut luar biasa, lebih takut dari sebelumnya. Pastinya karena kenyataan bahwa mematuhi protokol pun sungguh bukan jaminan kita tidak mungkin terpapar. Ketakutan terbesarku tentu aku terkena dan mati segera. Atau juga sekedar pikiran waspada, apa yang akan kulakukan jika itu terjadi padaku. Dengan kesempatan 50:50 terpapar dan positif, lalu 50:50 sembuh atau mati. Memikirkannya saja bikin aku sesak nafas.

Buatku jadi banyak yang harus dipikirkan, seperti apa yang akan terjadi pada bapak, ibu, dan adik-adikku dan kerepotan serta kesedihan seperti apa yang akan mereka rasakan. Pun tidak terpapar, kenyataan banyaknya pengurangan karyawan dan lainnya pun buatku gamang. Walau sungguh aku selalu bisa menyangkal dan mencari cara dan kekuatan bahwa aku pasti bisa melalui semuanya, ada kalanya aku benar setakut itu dan hanya bisa diam menata nafas untuk menjaga sadar. Tentu ini terusan dari waspadaku sejak awal Maret lalu. Aku sampai di titik memastikan kartu kredit terbayar semua dan atau menutupnya, karena jika terjadi hal buruk padaku semoga tidak banyak merepotkan orang, karena pasti mama bingung urusnya.

Aku sudah tahu bahwa panik seperti ini akan terjadi beberapa hari sampai aku menemukan cara untuk mengatasinya: mengembalikan kontrol ke tubuh dan pikiranku lagi. Sementara di kepala sudah banyak sekali rencana ini itu yang ingin dilakukan dan sudah disiapkan, ini juga hasil waspada Covid sejak Maret lalu. Hal-hal yang tertunda sudah ketemu jalannya. Bulan ini aku sedang menimbang satu keputusan besar untuk diriku sendiri, aku menakar resiko Covid dan efeknya untuk keputusanku nanti, aku benar-benar sampai memikirkan ke titik terburuk. Hasilnya, sepertinya aku sudah siap dan bisa menakarnya, setidaknya untuk saat ini dan beberapa bulan ke depan. Nafasku mulai ringan lagi. Hingga hari Lemon harus pergi.

Dua malam yang lalu pecah semua, aku nangis sesenggukan hingga hampir satu jam. Keingat Lemon dan pastinya capek, juga kurang tidur. Kerjaan juga lumayan padat. Setelah menangis dan dihibur Dzul, aku lega. Seperitnya takut dan sedihku menguap begitu saja. Jadi, dua hari ini aku sudah merasa sangat nyaman lagi.

Sejak beberapa tahun lalu aku baru sadar, aku adalah tipe orang yang melepas stress dengan menangis. Walau kadang saatnya bisa tak diduga-duga. Membaca meme saja bisa buat aku sesenggukan, tambah sesenggukan kalau sedang ada stress yang kebawa. Setelah aku tahu hal ini, jika merasa sangaaat sangaaat capek fisik dan pikiran, aku sengaja diam dan biarin aja aku nangis. Di kamar aja si, bisa heboh kalau di luaran sana. Karena aku tahu Dzul akan nyaman-nyaman saja dan mempersilahkan aku menghubungi dia kalau sedang menangis stress, aku merasa aman menghubungi dia. Pas juga dia sudah beres bekerja. Jadi setelah 30 menit menangis sendiri, aku telpon Dzul untuk minta dihibur. Dzul sering punya jokes receh atau kadang malah cuma ketawa-ketawa, jadi aku bisa ikut tertawa.

WOW! Kenapa jadi cerita sedih?

Karena gak selalu kita berbahagia. Tapi tentu sudah terbaca dan terselip banyak tentang apa yang membuatku bahagia selain kehadiran dan kesempatan, seperti:

  • Makanan kesukaan (mie) dan makanan enak lainnya
  • Keluargaku
  • Kerja atau melakukan sesuatu dengan fokus
  • Memiliki kontrol atas diri sendiri
  • Jokes receh
  • Menangis (biar lega)
  • Kucing-kucing
  • Teman-teman
  • Dzul, tentu. As I fully realized that it’s not Dzul’s responsibility to make me happy, he always does make me happy, tho. Walau cuma pakai emot daging dan kepala kuda atau cuma bilang gif yang aku kirim lucu. This is the thing both of us want to learn over the time, on how to make ourself happy and be able to make each other comfortable.

Beberapa hal yang gak ada dalam cerita latar belakang sedih kemarin, tapi bisa jadi hal yang bikin aku happy:

  • Musik bagus
  • Bau wangi bunga segar (parfum/baju/sprei/cairan pembersih/sabun/shampoo, dll)
  • Baju bersih
  • Baju bagus
  • Buku bagus
  • Anting-anting lucu
  • Film/series bagus
  • Bacaan bagus/lucu
  • Jokes lucu
  • Post Instagram bagus/lucu
  • Bunga warna-warni
  • Tanaman tumbuh sehat
  • Bau rempah
  • Masakan enak
  • Air putih hangat
  • Bangun pagi
  • Olahraga (yoga/lari/jalan kaki/renang)
  • Reach target olahraga
  • Gak buru-buru
  • Gambar-gambar bagus dan segar
  • Kamar bersih
  • Uang cukup
  • Bayar kartu kredit under Rp500.000
  • Liburan murah
  • Tidur siang panjang
  • Main sama Coco
  • Main sama anak-anak
  • Mandi bersih
  • Datang tepat waktu/tidak buru-buru
  • Dihargai orang
  • Dipahami/dimengerti
  • Dimintain pendapat jujur, dan aku beneran jujur terus kalau jelek aku gak disebelin
  • Ketemu teman baru
  • Kulkas bersih
  • Beli barang dan bagus dan berfungsi maksimal sesuai ekspektasi, dan murah
  • Dll

Oh, banyak sekali.

Kurang lebih itu. Tapi sesungguhnya masih banyak lainnya lagi.

LIFE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *