Personal

WhatsApp Image 2020-09-13 at 01.56.59

 

1/30

describe your personality

___

 

OK. Kita mulai, ya. Kali ini aku akan menuliskannya di blog.

Aku bayar blog ini tiap tahun dan lihat saja, baru 3 post. Jarak antara post kedua dan ketiga adalah tiga setengah tahun. Oh, Diyah! Untung dua tahun pertama dapat harga promo.

Alasannya, lupa password. Beruntung ada vendor pengelola hostingnya, jadi aku bisa minta link update password lagi, yang kemudian kutahu aku bisa setting ulang sendiri sebenarnya. Kamu sudah bisa menebak dan barangkali tebakanmu benar, aku seorang penjaga, pemelihara, perawat, loyalis yang baik, tapi sayangnya aku juga ceroboh. Jika kamu pikir aku juga kurang bijak menggunakan uang, kamu salah. Karena bagiku akun blog ini sama pentingnya dengan kartu BPJS Ketenagakerjaan yang uangnya bisa kamu cairkan saat pensiun nanti: saat ini nilainya tidak seberapa, tapi mungkin nanti bisa buat beli tanah 100 meter persegi di desa. Blog ini, kuniatkan jadi tabungan ceritaku saat tua nanti. Punya blog sendiri juga membuatku tidak perlu khawatir platform mana yang sedang tren atau mulai ditinggalkan, termasuk juga diblok pemerintah gblk. Paham kan ya, maksudnya?

Aku pernah kehilangan satu tabungan cerita dan aku terlalu kecewa kalau harus mengingatnya: akun Instagram pertamaku. Aku mengganti password dengan sangat iseng tiga kali berturut-turut dan salah ketik satu huruf karena password yang terlalu sulit yang kubuat sendiri. Mereka rata-rata 30 karakter dengan kombinasi double t, double r, double a. Hehe. Begitulah. Aku agak impulsif dan rumit. Lumayan.

Semakin aku dewasa, atau lebih tepatnya menua, sesungguhnya aku semakin kesulitan mendeskripsikan diriku sendiri.

Sering aku merasa aku cukup baik, tapi aku juga seringkali berpikiran buruk atas orang lain. Belum lagi ketika apa yang aku lakukan dan katakan menjadi pisau yang menyakiti orang lain, bahkan tanpa aku rencanakan sekalipun. Pun ketika aku meniatkannya sebagai satu kebaikan, ketika orang lain menerimanya sebagai sesuatu yang merugikan, aku kerap ikut percaya dan menerima jika benar aku seburuk yang mereka duga dan rasa. Pendapat mereka sama validnya dengan niatanku, bukan?

Selanjutnya, aku mencoba menerka-nerka apa itu menjadi baik dan benar. Apakah baik bagiku? Apakah baik bagi orang lain? Apa benar bagiku? Apa benar bagi orang lain? Jadi sepertinya aku kadang menjadi baik, kadang menjadi jahat, kadang ingin mencoba menyenangkan orang lain, kadang mengutamakan diriku sendiri, kadang peduli apa kata orang, kadang tidak peduli, kadang percaya diri, kadang kurang percaya diri. Aku juga banyak mempertanyakan banyak hal di sekitarku. Proses itu berulang setiap waktu hingga aku cukup yakin, ketika semda tanya itu membawaku untuk percaya pada akalku, pikiran sehatku. Insting. Gut. Akal budi: yang mana terus berubah.

Seiring semakin banyak pengalaman yang menyertaiku. Banyaknya kawan dan kenalan yang kutemui. Ragam tempat yang kudatangi. Kisah-kisah yang terus diceritakan. Nada-nada yang terus dimainkan. Harapan-harapan yang terkabulkan. Juga kekecewaan yang datang seiring dengan kegagalan. Aku rasa aku tumbuh setiap hari. Aku berubah setiap hari.

Sempat aku merasa sangat bodoh karena tak juga cakap membaca padahal sudah kelas empat SD, ternyata setahun kemudian aku peringkat pertama dan aku merasa aku bisa lebih pintar kalau aku rajin belajar dan terus membaca. Pernah merasa tidak diinginkan, lalu seorang teman mengingatkan bahwa dia kangen ingin bertukar cerita dan aku merasa diterima. Kerap merasa jelek, tapi pas bangun tidur dan bercermin tersadar aku cantik juga, apalagi kalau akut tertawa. Sering merasa takut, tapi ternyata berhasil melawan apa yang kukira musuhku. Aku bahkan sering tidak percaya aku berada dan menjadi diriku saat ini. Termasuk saat menuliskan catatan ini.

Kadang, aku merasa cukup sensitif dan mampu memahami kondisi seseorang. Di saat yang sama, aku bisa dianggap judgemental. Termasuk ketika mencoba bersahabat, ada kalanya ditolak karena dianggap terlalu ingin tahu dan palsu. Aku juga sering merasa aku lucu, jokes aku lucu gitu maksdunya, tapi ternyata garing banget atau malah bikin orang tersinggung karena terlalu eksplisit atau dianggap menyerang. Ah, atau aku yang terlalu sensitif dan overthinking? Bisa jadi. Tapi tidakkah kalian juga mengalaminya sesekali?

Aku juga sering menganggap diriku pemalas. Tapi setelah melihat catatan jam kerjaku, aku bekerja rata-rata 11 jam sehari. Aku tidak sepemalas itu. Bahkan sering pula bekerja di Hari Sabtu dan Minggu, bukan hanya untuk perusahaan tempatku bekerja, aku juga kadang menulis untuk kepentingan lain, volunteer ataupun berbayar. Aku suka membuat atau mengikuti proyek-proyek lucu, beberapa berhenti atau memang aku tak ikut lagi. Aku cukup sibuk ya, ternyata. Termasuk jadwal bersama pacar dan bertemu teman, karena keduanya bisa membuatku kelelahan. Aku bahkan menjadwalkan satu hari/jam khusus untuk istirahat jika jadwalku sudah terlalu padat dan ketika ada orang mengajakku bertemu aku bilang aku sudah ada acara: padahal aku hanya ingin di kasur, memutar album favoritku atau new release di Spotify, tiduran, scrolling Instagram berjam-jam, nonton Netflix seharian, atau baca buku sampai ketiduran. Bangun. Ketiduran. Makan. Berulang sampai bertemu jadwal berikutnya.

Aku juga sempat ragu dengan kemampuan negosiasiku. Tapi ternyata, jika sudah tahu apa yang aku mau, aku akan keras kepala dan sangat kaku. Aku juga cenderung taat peraturan yang dibuat manusia atau disepakati bersama, jika aku percaya itu baik untuk sesama. Aku bisa mengambil keputusan sangat cepat, tapi juga bisa lamaaa sekali. Aku masih belajar untuk mencoba mengambil keputusan dengan tepat, menurutku ini adalah salah satu kemampuan hidup yang paling sulit dikuasai. Seseorang harus memiliki kecerdasan, pengalaman, dan humility untuk melakukannya dengan keyakinan dan percaya diri.

Pada akhirnya, kurasa proses tumbuhku membantuku ketika harus lompat dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Pindah dari satu kota, ke kota lain. Berkomitmen ikut patungan dengan bapak ibu mengurus adik-adik dan memikirkan kebutuhan lainnya. Adaptasi dari satu kondisi, ke kondisi selanjutnya. Baik atau buruk, karakterku terbentuk dengan sendirinya. Termasuk keteguhan yang aku tidak duga jika aku punya. Tiap hari, aku jadi makin ahli. Makin berani. Menjadi aku saat ini.

Hasilnya? Ya tentu aku masih ada di sini. Menulis catatan ini. Sekarang. Detik ini. Merasa cukup sehat, tidak kurang satu apa. Cukup berbahagia.

Selain tentu hal-hal lain seperti, oh aku sudah tinggal sendiri sejak 14 tahun lalu ya… Mulai belajar benar-benar mandiri sejak bulan kedua bekerja. Berhutang untuk bersenang-senang, lalu membayarnya sendiri. Terjatuh, terluka, menangis, mengobati sendiri. Menginginkan, berharap, belajar, menanam, dan mencoba meraihnya sendiri. Aku merasa aku sudah bisa menemukan diriku sendiri dan semoga tidak akan pernah kehilangannya. Meski dia berubah seiring waktu.

Ternyata, aku bukan hanya Diyah yang hobi membaca dan warna favoritnya adalah putih, kuning, dan biru.

Selebihnya, beberapa tentang diriku yang aku tahu: aku malam tadi makan bakmi enak sekali, aku selalu nambah kuah sayur jika memesan makanan di tempat ini. Aku sedang mendengarkan waves – Tame Impala Remix dari Miguel dan Tame Impala. Aku sedang agak kurang tidur dan sakit perut. Sedang sangat ingin lari jauh lagi, tapi selalu takut ketika mulai berlari dan bertemu keramaian sementara belum nemu tempat lari yang cukup nyaman dalam jangkauan naik motor tanpa SIM dan skill seadanya, langsung jantungan pas diklakson kendaraan lain. Dan akan nonton 2 episode FRIENDS sebelum tidur malam ini. Dan oh, kucing-kucingku lagi berisik banget, kayaknya lagi musim kawinnya, sebel.

Aaah, panjang banget ya. Aku tadi belum sempet bilang, kalau aku cerewet banget dan suka bercerita tapi lebih nyaman menuliskannya.

OK, besok aku akan menulis lagi sesuai tema selanjutnya.

 

 

LIFE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *